sains tentang rasa kagum

mengapa melihat sesuatu yang besar itu menyehatkan

sains tentang rasa kagum
I

Pernahkah kita berdiri di pinggir tebing, menatap lautan yang seolah tak ada ujungnya? Atau mungkin menengadah ke langit malam yang bersih, penuh dengan taburan bintang, sampai napas kita tertahan sejenak? Di momen itu, segala cicilan, tenggat waktu pekerjaan, dan drama grup obrolan tiba-tiba terasa sangat sepele. Kita merasa sangat kecil. Anehnya, alih-alih merasa terintimidasi, kita justru merasa lega. Mengapa perasaan menjadi kerdil di hadapan semesta ini terasa begitu mendamaikan? Mari kita bedah bersama-sama.

II

Secara historis, manusia memang punya obsesi yang agak ganjil dengan hal-hal raksasa. Nenek moyang kita membangun piramida yang menjulang tinggi. Mereka mendirikan katedral dengan langit-langit yang membuat leher pegal karena terus mendongak. Ada sebuah dorongan purba dalam diri kita untuk mencari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dalam psikologi, pengalaman emosional ini disebut sebagai awe atau rasa kagum yang mendalam. Dulu, perasaan ini hanya diklaim oleh para filsuf dan penyair. Dianggap sekadar pengalaman spiritual yang puitis. Namun, belakangan ini, para ilmuwan mulai penasaran. Mereka membawa orang-orang ke laboratorium, memasang alat pemindai ke kepala mereka, dan menyodorkan gambar-gambar alam yang megah. Hasilnya? Rasa kagum ternyata bukan sekadar romantisasi puitis. Ada mekanisme biologis yang sangat nyata—dan sangat menyehatkan—sedang bekerja di balik kekaguman kita.

III

Sekarang coba kita pikirkan sejenak. Setiap hari, otak kita sibuk menjadi pusat dari alam semesta kita sendiri. Kita terus-menerus memikirkan masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, dan merawat ego kita. "Apakah baju saya pantas?", "Bagaimana kalau saya gagal presentasi nanti?". Siklus pikiran tanpa henti ini sangat melelahkan. Ia memicu stres kronis dan peradangan di dalam tubuh kita. Lalu, terjadilah momen awe tersebut. Kita melihat pegunungan yang diselimuti kabut atau memandangi pohon beringin yang usianya ratusan tahun. Tiba-tiba, suara bising di kepala kita mendadak sunyi. Ego kita seolah menciut. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya dimatikan oleh otak kita pada detik itu? Dan mengapa evolusi—yang biasanya menyuruh kita untuk selalu waspada demi bertahan hidup—justru membiarkan kita mematung, terpana, dan lupa pada diri sendiri?

IV

Inilah temuan sains yang menurut saya sangat menakjubkan. Ketika kita mengalami awe, sebuah jaringan di otak yang bernama Default Mode Network (DMN) tiba-tiba menjadi sangat pasif. DMN ini adalah markas besar ego kita. Ia adalah narator cerewet yang selalu mengaitkan segala hal dengan diri kita sendiri. Saat DMN mereda karena rasa kagum, kita benar-benar mengalami penyusutan ego yang membebaskan. Kita berhenti memikirkan diri sendiri. Tidak hanya di otak, dampaknya juga menjalar ke seluruh tubuh. Penelitian ilmiah menemukan bahwa momen kekaguman secara drastis menurunkan tingkat sitokin, yaitu protein penanda peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis adalah biang kerok dari berbagai masalah, mulai dari depresi hingga penyakit autoimun. Jadi, melihat sesuatu yang maha besar secara harfiah meredakan stres di tingkat seluler. Lebih kerennya lagi, ketika ego menyusut, empati kita membesar. Tanpa beban ego, kita merasa lebih terhubung dengan manusia lain. Kita menjadi lebih dermawan dan sabar. Alam semesta seolah me-reset sistem operasi kita hanya dengan menyuguhkan pemandangan yang megah.

V

Jadi teman-teman, sains telah membuktikan bahwa kita memang dirancang untuk terkagum-kagum. Kita butuh pengingat visual bahwa dunia ini jauh lebih luas dari sekadar keruwetan masalah pribadi kita. Kabar baiknya, kita tidak perlu terbang ke benua lain atau mendaki gunung tertinggi setiap kali merasa penat. Awe bisa ditemukan dalam dosis kecil di sekitar kita. Cobalah luangkan waktu lima menit saja hari ini. Berhentilah sejenak. Tataplah awan yang bergerak perlahan di sore hari. Perhatikan detail tulang daun di halaman rumah. Atau dengarkan gemuruh hujan dengan saksama. Izinkan diri kita merasa kecil. Sebab, terkadang cara terbaik untuk menyembuhkan diri yang sedang lelah bukanlah dengan membesarkan ego, melainkan dengan mengakui betapa kecilnya kita di hadapan semesta yang luar biasa ini.